Orang Kaya


Seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun berjalan bergandengan tangan dengan lelaki usia sekitar 32 tahun yang dipanggilnya bapak. Mereka melintasi jalanan tanah berbatu di tengah terik sepulangnya dari sekolah. 

Di masa itu, itulah jalanan menuju jalanan utama tempat ia menunggu dan diturunkan bis sekolahnya. Jalanan yang di musim hujan, dia harus menghias sepatunya dengan balutan kantong  "asoy" agar tetap bersih dari lengketnya tanah yang seperti adonan kue ibunya. 


Di salah satu tepi jalanan itu ada sebuah rumah megah bertingkat dengan halaman luas. Rumah itu  selalu mereka lewati di tiap rutinitas pergi dan pulang sekolah. Rumah yang dijaga seekor anjing galak yang sering menggonggong tapi selalu takut padanya. Keyakinannya, anjing itu takut dengan mantra paten pengusir anjing miliknya : summum bukmun umyun fahum laa yarjiuuun " - dan terbukti anjing itu selalu menjauh darinya 😎

Banyak tahun kemudian gadis kecil itu baru mengerti, itulah kekuatan vibrasi. Getaran dari dalam dirinya yang begitu yakin akan kehebatan mantranya mengusir anjing. Maka anjingpun benar-benar menjauh darinya 😚 

" Pak ini rumah orang kaya ya, pasti disana banyak kue ..." , kata gadis kecil itu polos agak memalukan.

Saat itu bapaknya hanya diam. Mungkin tertawa dalam hati atau malah menangis ?? Entahlah.....

…….dia masih terlalu kecil untuk menerka perasaan orang lain.   Tapi celetukan polos memalukannya itu menjadi bahan cerita puluhan tahun kemudia. Cerita yang dianggap lucu dan jadi bahan tertawaan. 

" ..... dulu bilang rumah orang kaya banyak kuenya, sekarang dia bisa bayar kue apa aja  " - bapaknya kembali menceritakan obrolan soal rumah orang kaya banyak kue ketika kumpul keluarga. Ada nada bangga disana. Jadi cerita berulang itu tidaklah memalukan baginya. 

Saat gadis kecil itu sudah menjadi ibu muda dan hidup berkecukupan, bisa dibilang cukup berhasil di bisnisnya dan bisa berbagi, saat kekurangan kue bukan lagi menjadi issue. Cerita yang bahkan menggambarkan seperti apa hidup masa kecilnya, tak membuatnya kecil hati. 

Sebuah pelajaran bagi dirinya sendiri sebenarnya, jika hidup kita menanjak, minimal ada perbaikan, itu adalah sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Bahwa kita telah berjuang mengubah nasib kita sendiri.

Gadis kecil itu adalah saya, The Sweet Neena. Saya yang kini sudah menjadi neena dari seorang cucu cantik dari anak yang telah saya didik dengan benar. Dengan ilmu di masa saya menjadi ibu, Insya Allah. 

Saya kecil tidak tumbuh dengan berkelimpahan harta dan layanan, yang bahkan tak melimpah sekedar cemilan. Saking jarangnya ibu stok cemilan atau membeli kue-kue, di dalam benak saya, kami adalah orang miskin. Kalau ke rumah orang berlimpah makanan, bagi saya itu orang kaya. Kasihan ya ! 😂

Mengingat kembali dimasa itu, saya begitu bergembira ketika mahasiswa bapak datang ke rumah kami dan membawa buah tangan seperti kue-kue, buah-buahan atau makanan yang mustahil dibeli dari dompet jatah ibu seperti durian monthong ! Durian monthong terlalu ekslusive bagi kami. 

Begitulah saya kecil memandang arti kaya dengan begitu sederhana, dari kepemilikan banyaknya cemilan yang kami jarang disediakan 🥰

Jika sekarang saya sering membeli beragam panganan, entah untuk dicemil saat bekerja, sambil nonton atau dibeli untuk dibagi ke orang-orang, bisa jadi karena di masa kecil, berlimpah itu bukan jadi takdir saya. Apakah semacam luka batin ? Mungkin 🤔


Komentar

POPULER