Silaturahmi Apa Introgasi ?



Secangkir imajinasi  ini seyogyanya akan menjadi bahan renungan bagi diri sendiri. Imajinasi yang tiba-tiba muncul karena riuhnya silaturahim Idul Fitri hari pertama di kampung halaman, 1 April 2025. 

Sering tanpa sengaja saya ikut terayun ombak lembut danau di atas sampan sambil ditiup angin sepoi-sepoi. Tercebur ke dalam aktifitas yang nampaknya biasa saja namun efeknya bisa kemana-mana, bukan hanya diri sendiri

Sebuah hadis riwayat Bukhari & Muslim : 

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam " 

Sering nemuin si model asal jeplak tanpa memikirkan perasaan orang yang ditanya ?  Sekedar basa-basi untuk bahan obrolan, bercandaan atau memang tak punya adab 🤔

“ Ehhh si eneeeng, kapan nikah ? Sendirian waeeee “

“  Waah… kapan nih ada momongannya ? Masih rata aja perutnya ! “

“  Kok kelihatan menua ya ?  Ha ha ha ha “

" Gendut ya sekarang, sehat bener lu " 


Jujurly saya pernah bicara asal jeplak juga seperti ini : 

" Alhamdulillah udah berapa bulan hamilnya ? " — sambil ngelus perutnya. 

Dia tersipu malu. Saat itu saya hanya berfikir beliau benar hamil. Padahal berat badan sedang tak terkendali. Sama sekali tak terfikir, gimana kalau engga hamil ? Gubraks! 🙃

Saya akui kalau saat itu saya sedang agak kurang aqua 😫

Dari pengalaman itu, saya berusaha untuk berfikir dulu kalimat apa yang harus keluar saat bertemu orang lain, bahkan untuk sekedar berbasa-basi. Lebih baik salah tingkah tanpa basa-basi daripada bicara asal jeplak membuat orang berkecil hati. 

Sedih mikirin kalau sehabis bertemu itu, beliau nangis bombay serasa habis kena body shaming. Belum lagi jadi ingat kalau belum dikasih baby 😪

Gimana kalo sampe bunuh diri ? 😭

Ada lagi model tukang gosip yang lidahnya engga pake tulang (ya emang ga bertulang ya 😂). Doyan banget gosipin orang atau nerusin berita tentang orang-orang. Supaya dibilang paling update gitu ? 

 “ Jenk…jenk… tau gak cerita si ono yang kawin lagi sama brondong

Mak….mak….itu lho tapi diem-diem ya, aku cuman cerita ke kamu lho…. Si Ana anaknya bu Broto.... bla…bla.…blaaa….. ” - setelah itu cerita tentang si Ana telah diketahui orang sekampung 😏

Pergi kemana-mana, gosiiiippp aja. Digosok makin siipp! Sepertinya kalo mulutnya ga ngegosip, dia segera akan tutup usia. .  

Ada lagi yang lebih horror. Asal menyebar berita yang kebenarannya belum tentu.  Tanpa takut salah berita yang jatuhnya bisa ke fitnah. 

Padahal ilmunya banyak orang sudah tau, termasuk saya 😭, bahwa .....

Berhati-hatilah dengan lidah dalam mengungkapkan suatu berita kepada orang lain. Jika itu benar maka jadi ghibah. Jika itu salah maka jadi fitnah "


Kalau beritanya terkonfirmasi benar, serasa halal menjadikannya bahan pembicaraan.. 

Ghibah dan fitnah, kata bu ustazah keduanya sama-sama dosa. Tapi kita seringkali pura-pura lupa. Sayangnya, mereka yang sering terlihat di majelis ilmu, sering ngaji katanya sih, suka begini. Serasa itu hanya "sekedar" bicara tanpa makna. Padahal efeknya luarbiasa. 

Sebetulnya selain merusak nama baik orang lain, ada efek bumerang kepada diri sendiri. Bisa dikenal sebagai bigos (biang gosip) atau penyebar fitnah. Ujung-ujungnya diri sendiri yang buruk dan menanggung dosanya. Atau banyak orang memilih menghindar karena takut ketularan jeleknya atau jadi bahan gosipan berikunya.

QS. Al-Hujurat: 12, Allah berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari keburukan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." 

Lebih sederhana dari urusan larangan agama yang memang ada dalilnya, saya meyakini satu hal ini : 

Jika datang kepadamu seseorang membawa cerita tentang orang lain, dapat dipastikan dia akan membawa cerita tentangmu kepada orang lain juga " 

Janganlah dulu bangga diberitakan tentang orang lain. Seorang bigos akan tetap bigos dimana pun bumi dipijaknya, sepanjang masa, kecuali tobat 😂 

Kumpul-kumpul adalah kesempatan paling pas untuk lidah asal jeplak, berghibah dan fitnah. Kumpul-kumpul paling sering saat momen Idul Fitri, reuni, buka bersama, arisan atau sekedar dua orang yang bertemu. 

Setelah semakin menua, lingkaran pertemanan saya serasa mengecil. Bisa dibilang meng-ekslusive-kan diri. Rasanya, saya lebih asik menikmati hidup sendiri. Menikmati hobby : bertanam, nonton bioskop membuat DIY (kerajinan tangan). Di hari-hari tertentu mengunjungi anak-anak dan cucu. 5 hari dalam seminggu berolahraga melatih otot dan melenturkanya : fitnes, yoga dan pilates. Saya memjtuskan sudah "selesai" dengan beragam hiruk pikuk tak berefek.  Ketentraman pikiran dan hati. 

Lebih banyak ngobrol hanya dengan pasangan dan sahabat yang itu-itu saja, teman-teman bisnis yang jelas bahasannya seputar  bisnis. 

Sudah 10 tahun belakangan saya tak mengambil kesempatan kumpul reuni sekolah semua level : TK, SD, SMP, SMA,Kuliah dan juga alumni kantor. Sesekali ada tapi hanya dengan yang sekiranya "nyambung"  diajak bicara misalnya peluang bisnis atau hal yang lebih berbobot seperti asiknya liburan ke Eropa bagian mana ? 😂🤑

Kumpul arisan ? Oh... sudab lama saya berhenti perkumpulan arisan manapun. 

Kumpul skala besar, yang ngobrol juga engga nyambung karena lama tak berinteraksi, sudah tak menarik lagi.. Apa lagi yang jadi bahasan selain cerita tentang orang-orang atau basa-basi yang basi banget ?

Piss ✌️—  tulisan ini untuk pengingat diri sendiri. Jika ini baik, boleh teguk dari cangkir imajinasi saya kali ini. Mari sama-sama kita berbenah diri 😊 



Komentar

POPULER